Lagi pusing ngerjain skripsi, bukannya disemangatin malah ditanya, “Kapan lulus? Tuh, lihat si A yang seangkatan sama kamu udah lulus bulan lalu.”
Baru juga lulus, baru pecah bisul, udah langsung disusul sama pertanyaan, “Kapan kerja? Si A baru wisuda kemarin, nggak lama langsung keterima kerja.”
Begitu udah kerja, pinginnya menikmati hasil usaha sendiri dulu, pinginnya senang-senang dulu, eh malah diteror pertanyaan, “Kapan nikah? Umur segini harusnya udah nikah.”
Usia pernikahan baru sebulan, masih menyesuaikan diri, eh udah ada lagi yang tanya, “Kok belum isi? Liat si A, baru nikah seminggu udah langsung isi.”
Dan, ketika ada yang memilih menunda punya anak, malah disebut “berdosa”. Mereka yang nggak tahu apa-apa kok dengan mudahnya menghakimi ya?
Katanya hidup harus mengikuti template kebanyakan orang supaya bahagia. Tapi kalau memang begitu, kenapa banyak orang yang sudah mengikuti template itu tetap merasa kosong? Tetap merasa tertekan? Tetap merasa tidak bahagia?
Kenapa kita selalu dituntut untuk buru-buru dalam menjalani hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain? Sampai-sampai tidak dikasih ruang untuk jeda. Tidak dikasih ruang untuk memilih. Padahal setiap orang punya waktunya masing-masing, punya ritmenya sendiri dalam menjalani hidup.
Kenapa kita selalu dikejar pertanyaan “kapan?”. Seolah-olah hidup ini perlombaan. Padahal, yang kita butuhkan bukanlah kecepatan, melainkan ketenangan. Menjalani hidup dengan lebih sadar, tanpa terburu-buru hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.


